Senin, 07 Mei 2012

makalah retensio plasenta


MAKALAH ASKEB IV
RETENSIO PLASENTA


Oleh Kelompok 11 :
1.     Akni Putri Mayangsari
2.     Dahliawati

Pembimbing: Devi Syrief S.Si.T M.Keb




STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT, karena Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan sebuah makalah yang berjudul “RETENSIO PLASENTA”.
Penyusunan makalah ini dimaksud untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ASKEB IV. Dan juga untuk menambah wawasan serta pengetahuan yang lebih luas bagi kami dan juga pembaca.
Dalam penyusunan makalah ini kami menemukan beberapa kendala, namun berkat partisifasi dari berbagai pihak, akhirnya kami  dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan makalah.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi kita semua.



                                                                                                Padang,  Maret 2012

penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar………….………………………………………………………..……i
Daftar Isi…….…………………….……………….……………………………….…….ii
Bab  I     :  Pendahuluan
        I.I   : Latar Belakang………………….…………………………………….…1
I.2  : Tujuan……………………………………………………….……………………...1
Bab II    :  Pembahasan
Bab III :  Penutup
3.I : Kesimpulan……………..…………………………………………………………22
3.2 : Saran…………….………………………………………………………………..22
Daftar Pustaka









BAB I
PENDAHULUAN

I.I  Latar Belakang
      Tingginya Angka Kematian Ibu merupakan masalah besar yang terjadi dalam bidang kesehatan. Angka kematian ibu di Indonesia masih tertinggi d ASEAN dan Indonesia. Persalinan merupakan hal yang sangat di tunggu oleh ibu hamil. Tapi dalam persalinan dan setelah melahirkan adalah suatu yang sangat rawan bagi ibu untuk mengalami perdarahan yang begitu hebat dan perdarahan tersebut adalah salah satu faktor tertinggi penyebab kematian pada ibu. Perdarahan yang terjadi pada ibu diantaranya diakibatkan oleh terhambatnya kelahiran plasenta melebihi dari 30 menit. Hal ini di akibatkan karena tertinggalnya sebagian sisa plsenta di dalam uterus ibu karena perlekatan yang begitu erat.
      Lepasnya plasenta tidak terjadi bersamaan sehingga sebagian masih melekat pada tempat implantasinya. Menyebabkan terganggunya kontraksi otot uterus sehingga sebagian pembuluh darah tetap terbuka serta menimbulkan perdarahan.ini lah yang disebut dengan RETENSIO PLASENTA

1.2  Tujuan
Ø  Mengetahui retensio plasenta
Ø  Untuk mengetahui penyebab retensio plasenta
Ø  Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan palsenta manual



BAB II
PEMBAHASAN


http://www.bidankita.com/images/stories/plasenta%204.jpg
1.       Pengertian
                Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahriran plasenta selama setengah jam setelah kelahiran bayi. Pada beberapa kasus dapat terjadi retensio plasenta (habitual retensio plasenta). Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi sebagai benda mati, dapat terjadi plasenta inkarserata, dapat terjadi polip plasenta dan terjadi degerasi ganas korio karsioma. Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang. (Prawiraharjo, 2005).
                Plasenta tertahan jika tidak dilahirkan dalam 30 menit setelah janin lahir. Plasenta mungkin terlepas tetapi terperangkap oleh seviks, terlepas sebagian, secara patologis melekat (plasenta akreta, inkreta, percreta) (David, 2007)
Retensio plasenta adalah plasenta yang tidak terpisah dan menimbulkan hemorrhage yang tidak tampak, dan juga disadari pada lamanya waktu yang berlalu antara kelahiran bayi dan keluarnya plasenta yang diharapkan.beberapa ahli klinik menangiani setelah 5 menit, kebanyakan bidan akan menunggu satu setengah jam bagi plasenta untuk keluar sebelum menyebutnya untuk tertahan (Varney’s, 2007).
2.       Fisiologi plasenta
                Klasifikasi plasenta merupakan proses fisiologis yang terjadi dalam kehamilan akibat deposisi kalsium pada plasenta. Klasifikasi pada plasenta terlihat mulai kehamilan 29 minggu dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia kehamilan, terutama setelah kehamilan 33 minggu. Selama kehamilan pertumbuhan uterus lebih cepat daripada pertumbuhan plasenta. Sampai usia kehamilan 20 minggu plasenta menempati sekitar ¼ luas permukaan miometrium dan ketebalannya tidak lebih dari 2-3 cm, menjelang kehamilan aterm plasenta menempati sekitar 1/8 luas permukaan miometrium, dan ketebalannya mencapai 4-5 cm. Ketebalan plasenta yang  normal jaran melebihi 4 cm, plasenta yang menebal (plasentomegali) dapat dijumpai pada ibu yang menderita diabetes melitus, ibu anemia (HB < 8 gr%), hidrofetalis, tumor plasenta, kelainan kromosom, infeksi (sifilis, CMV) dan perdarahan plasenta. Plasenta yang menipis dapat dijumpai pada pre eklampia, pertumbuhan jani terhambat (PJT), infark plasenta, dan kelainan kromosom. Belum ada batasan yang jelas mengenai ketebalan minimal plsaenta yang masih dianggap normal. Beberapa penulis memakai batasan tebal minimal plasenta normal antara 1,5-2,5 cm.
3.       Patofisiologi
                Segera setelah anak lahir, uterus berhenti kontraksi namun secara perlahan tetapi progresif uterus mengecil, yang disebut retraksi, pada masa retraksi itu lembek namun serabut-serabutnya secara perlahan memendek kembali. Peristiwa retraksi menyebabkan pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dicelah-celah serabut otot-otot polos rahim terjepit oleh serabut otot rahim itu sendiri. Bila serabut ketuban belum terlepas, plasenta belum terlepas seluruhnya dan bekuan darah dalam rongga rahim bisa menghalangi proses retraksi yang normal dan menyebabkan banyak darah hilang.
4.       Fisiologi pelepasan plasenta
                Pemisahan plasenta ditimbulkan dari kotraksi dan retraksi miometrium  sehingga mempertebal dinding uterus dan mengurangi ukuran area plasenta. Area plasenta menjadi lebih kecil, sehingga plsenta mulai melepaskan diri dari dinding uterus dan tidak dapat berkontraksi atau berinteraksi pada area pemisahan bekuan darah retroplasenta terbentuk. Berat bekuan darah ini menambah pemisahan kontraksi uterus berikutnya akan melepaskan keseluruhan plasenta dari uterus dan ,mendorongnya keluar vagina disertai dengan pengeluaran selaput ketuban dan bekuan darah retroplasenta (WHO, 2001)
5.       Predisposisi retensio plasenta
                Beberapa predisposisi terjadinya retensio plasenta yaitu:
a.       Grandemultipara
b.      Kehamilan ganda,sehingga memerlukan implantasi  plasenta yang agak luas
c.       Kasus infertilitas, karena lapisan endometriumnya tipis
d.      Plasenta previa, karena dibagian ishmus uterus, pembuluh darah sedikit sehingga perlu masuk jauh kedalam
e.      Bekas operasi pada uterus

6.       Penyebab retensio plasenta
                Secara fungsional dapat terjadi karena his kurang kuat (penyebab terpenting), dan plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi disudut tuba), bentuknya (plasenta membranacea, plasenta anularis), dan ukurannya (palsenta yang sangat kecil). Plasenta yang sukar lepas karena penyebab di atas disebut plasenta adhesive.
Gambaran dan dugaan penyebab retensio plasenta
Gejala
Separasi/ akreta parsial
Plasenta inkarserata
Plasenta akreta
Konsistensi uterus
Kenyal
Keras
Cukup
Tinggi fundus
Sepusat
2 jari bawah pusat
Sepusat
Bentuk fundus
Diskoid
Agak globuler
Diskoid
Perdarahan
Sedang-banyak
Sedang
Sedikit/tidak ada
Tali pusat
Terjulur sebagian
Terjulur
Tidak terjulur
Ostium uteri
Terbuka
Konstriksi
Terbuka
Separasi plasenta
Lepas sebagian
Sudah lepas
Melekat seluruhnya
syok
sering
jarang
Jarang sekali


                                        
7.       Tertinggalnya sebagian palsenta
                Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta. Penemuan secara dini hanya di mungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ketempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang kerumah dan subinvolusi uterus :
a.       Penemuan secara dini hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ketempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang kerumah dan subinvolusi uterus.
b.      Berikan antibiotika (sesuai intruksi dokter) karena perdarahan juga merupakan gejala metritis. Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjukan 3x1 g oral dikombinasi dengan metrodinazol 1 g supositoria dilanjutkan 3 x 500 mg oral
c.       Lakukan eksplorasi digital (bidan boleh melakukan) (bila serviks terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan dilatasi dan kuretase (dilakukan oleh dokter obgyn)
d.      Bila kadar HB < 8 g/dL berikan transfusi darah. Bila kadar HB > 8 g/dL, berkian sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari (sesuai petunjuk dokter kandungan).
8.       Tanda dan Gejala
                Gejala yang selalu ada adalah plasenta belum lahir dalam 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-kadang timbul yaitu tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta), gejala yang selalu ada yaitu plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap dan perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul uterus berkontraksi baik tetapi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
                Penilaian retensio plasenta harus dilakukan dengan benar karena ini menentukan sikap pada saat bidan akan mengambil keputusan untuk melakukan manual plasenta, karena retensio bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
a.       Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
b.      Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai sebagian lapisan miometrium, perlekatan plasenta sebagian atau total pada dinding uterus. Pada plasenta akreta vilii chorialis menanamkan diri lebih dalam kedalam dinding rahim daripada biasa adalah sampai kebatas atas lapisan otot rahim. Plasenta akreta ada yang kompleta, yaitu jika seluruh permukannya melekat dengan erat pada dinding rahim. Plasenta akreta yang parsialis, yaitu jika hanya beberapa bagian dari permukaannya lebih erat berhubungan dengan dinding rahim dari biasa. Plasenta akreta yang kompleta, inkreta, dan precreta jarang terjadi. Penyebab plasenta akreta adalah kelainan desidua, misalnya desisua yang terlalu tipis.
c.       Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai / melewati lapisan miometrium.
d.      Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion yang menembus lapisan miometrium hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e.      Plasenta inkar serata adalah tertahannya plasenta didalam kavum uteri, disebabkan oleh kontriksi ostium uteri
9.       Komplikasi
                Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya :
a.       Perdarahan
Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit pelepasan hingga kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak menutup.
b.      Infeksi
Karena sebagai benda mati yang tertinggal didalam rahim meingkatkan pertumbuhan bakteri dibantu dengan pot d’entre dari tempat perlekatan plasenta.
c.       Terjadi polip plasenta sebagai masa proliferative yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
d.      Terjadi degenerasi (keganasan) koriokarsinoma
Dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-dikariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasive, proses keganasan akan berjalan terus. Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel ini merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan pre kanker, yang bisa berubah menjadi kanker (Manuaba, IGB. 1998:300)

10.   Penanganan Retensio Plasenta
Ø  Tentukan jenis retensio yang terjaid karena berkaitan dengan tindakan yang di ambil.
Ø  Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.
Ø  Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes permenit. Bila perlu, kombinasikan dengan misoprostol 400 mg per rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta terperangkap dalam kavum uteri).
Ø  Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual palsenta secara hati-hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan perdarahan.
Ø  Lakukan tranfusi darah apabila diperlukan.
Ø  Berikan antibiotika profilaksis (ampisislin 2 g IV / oral + metronidazole 1 g supositoria/oral).
Ø  Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenik.

11.   Penanganan plasenta akreta
v  Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus atau korpus bila tali pusat ditarik. Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam.
v  Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan dasar adalah menetukan diagnosis, stabilisasi pasien dan rujuk kerumah sakit rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif.
12.   Penatalaksanaan retensio plasenta
             Dalam melakukan penatalaksanaan pada retensio plasenta seiknya bidan harus mengambi beberapa sikap dalam menghadapi kejadian retensio plasenta yaitu :
a.       Sikap umum bidan melakukan pengkajian data secara subyekitf dan obyektif antara lain : keadaan umum penderita, apakah ibu anemis, bagaimana jumlah perdarahannya, keadaan umum penderita, keadaan fundus  uteri, mengetahui keadaan plasenta, apakah plasenta inkaserata, melakukan tes plasenta dengan metode kustner, metode klein, metode strastman, metode manuaba, memasang infus dan memberikan cairan pengganti.
b.      Sikap khusus bidan : pada kejadian retensio plasenta atau plasenta tidak keluar dalam waktu 30 menit bidan dapat melakukan tindakan manual plasenta yaitu tindakan untuk mengeluarkan atau melepas plasenta secara manual (menggunakan tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum uteri (Depkes, 2008).
c.       Prosedur palsenta manual dengan cara :

Langkah
Cara melakukan
Gambar

Persiapan: pasang set dan cairan infus, jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan, lanjutkan anastesia verbal atau analgesia per rektal, siapkan dan jelaskan prosedur pencegahan infeksi


Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri: pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong; jepit tali pusat dengan klemp pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai


Secara obstetrik masukkan tangan lainnya (punggung tangan menghadap ke bawah) kedalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat, setelah mencapai bukaan serviks, kemudian minta seorang asisten / penolong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus
http://www.bidankita.com/images/stories/manual%20plasenta%20a.jpg

Sambil menahan fundus uteri, masukkan tanagn kedalam hingga ke kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta. Bentangkan tangan obstetric menjadi datar seperti memberi dalam (ibu jari merapat kadi telunjuk dan jari-jari lain merapat), tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah. Bila plasenta berimplentasi di korpus belakang, tali pusat tetap disebalah atas dan sisipkan ujung jaru-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tngan menghadap ke bawah (posterior ibu).
http://www.bidankita.com/images/stories/manual%20plasenta%20b.jpg

Bila di korpus depan maka pindahkan tangan kesebalah atas tali pusat dan sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dandinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke atas (anterior ibu), setelah ujung-ujung jari masuk diantara palsenta dan dinding uterus maka perluasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke tangan kiri sambul geserkan ke atas (cranial ibu) hingg semua perlekatan plasenta terlepas dari dinding uterus


Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang tertinggal.
http://www.bidankita.com/images/stories/manual%20plasenta%20d.jpg

Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simpisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian intruksikan asisten/penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan membawa plasenta keluar (hindari adanya percikan darah)


Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan supra simpisis) uterus ke arah dorso kranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta dalam wadah yang telah disediakan.


Lakukan tindaan pencegahan infeksi dengan cara dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lain yang digunakan, lepaskan dan rendam sarng tangan dan peralatan lainnya didalam larutan klorin 0,5% selam 10 menit, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering


Lakukan pemantauan pasca tindakan, pastikan tanda vital ibu, catat kondisi ibu, dan buat laporan tindakan, tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan asuhan lanjutan, beritahukan pada ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai tapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan, lanjutan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan sebelum pindah ke ruang rawat gabung


Catatan :
a.       Bila tepi plasenta tidak teraba atau plasenta berada pada dataran yang sama tinggi dengan dinding uterus maka hentikan upaya plasenta manual karena hal itu menunjukkan plasenta inkreta (tertanam dalam miometrium).
b.      Bila hanya sebagian dari implantasi plasenta dapat dilepaskan dan bagian lainnya melekat erat maka hentikan pula plasenta manual karena hal tersebut adalah plasenta akreta. Untuk keadaan ini sebaiknya ibu diberi uterotonika tambahan (miso[rostol 600 mcg per rektal) sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.

Indikasi melakukan plasenta manual
a.       Perdarahan mendadak sekitar 400-500 cc
b.      Riwayat HPP habitualis
c.       Post operasi
·         Transvaginal
·         Transabdominal
d.      Penderita dalam keadaan narkosa atau anesthesi umum.
Komplikasi plasenta manual
Komplikasi plasenta manual diantaranya :
a.       Perforasi karna tipisnya tempat implantasi palsenta
b.      Meningkatnya kejadian infeksi asenden
c.       Tidak berhasil karena perlekatan plasenta, dapat menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan
Dapat dikatakan plasenta manual pada retensio yang tidak menimbulkan perdarahan harus berhati-hati karena  kemungkinan perlekatan sangat erat, sehingga menimbulkan perdarahan.
Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan maslah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasi pikiran serta tindakan berdasarkan teri ilmiah. Penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus pada klien. Asuhan ini adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada klien atau pasien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara bertahap dan sistematis dan melalui suatu proses yang disebut Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997 .
Proses manajemen menurut varney (1997) terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana  setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun.
yaitu:
1.      Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi pasien secara lengkap.
2.      Mengidentifikasi masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar dari data tersebut .
3.      Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya yang mungkin terjadi karna masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi .
4.      Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan dan dokter.
5.      Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh.
6.      Mengembangkan rencana asuhan tersebutsecara efisien dan aman.
7.      Mengevaluasi keefektifan dan asuhan yang telah diberikan.

Langkah-langkah dalam pelaksanaan pada dasarnya jelas, akan tetapi dalam pembahasan singkat mengenai langkah-langkah tersebut mungkin akan lebih memperjelas proses pemikiran dalam proses klinis yang berorientasi pada langkah ini. Penulis membatasi hanya pada kasus Retensio Plasenta.




Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
           
I.                    PENGKAJIAN  (PENGUMPULAN DATA DASAR )

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan keadaan klien. Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien
Data- data tersebut dikumpulkan meliputi:
1.Data Subjektif
a.      Identitas
Nama klien: digunakan untuk membedakan antara klien yang satu dengan yang lain
Umur: untuk mengetahui masa reproduksi klien berisiko tinggi atau tidak, <20 tahun atau >35 tahun.
Agama: untuk menentukan bagaimana kita memberikan dukungan kepada ibu selama memberikan asuhan
Suku/ bangsa: untuk menentukan adat istiadat atau budayanya
Pendidikan: untuk memudahkan kita dalam memberikan asuhan pada ibu.
Pekerjaan: untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat kita sesuai.
Alamat: untuk mengetahui ibu tinggal dimana.

    ( maksud pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasi atau mengenal klien)
b.      Keluhan utama
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu saat Retensio plasenta terjadi. Ibu dengan retensio plasenta mengatakan perutnya tidak terasa mules plasenta belum lahir.

c.       Riwayat perkawinan
Menanyakan tahun berapa meniakah, status perkawinan dan setelah menikah berapa lama baru hamil. Gunanya untuk mengetahui fungsi alat reproduksi pasien baik atau tidak. Kejadian retensio plasenta ini dapat berkaitan dengan usia ibu yang tidak dalam usia reproduksi yang sehat dimana  wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan.


d.       Riwayat menstruasi
(1) Menarche :
(2) Siklus :
(3) Banyaknya :
(4) Keluhan : 
(5) HPHT :
 maksud pertanyaan ini adalah untuk menentukan tafsiran persalinan dan usia kehamilan,dimana dari sini merupakan salah satu  cara untuk mengetahui apakah siklus mentruasi pasien normal.

e.      riwayat obstetric yang lalu
menanyakan tentang kehamilan yang lalu, persalinan yang lalu dan nifas yang lalu normal atau tidak.
·         Kehamilan yang lalu, kemungkinan pasien ada atau tidak mengalami anemia.
·         Persalinan yang lalu, kemungkinan klien pernah mengalami persalinan spontan atau dengan tindakan , persalinan atrem atau post-term. Riwayat Bekas operasi pada uterus dapat mengakibatkan retensio plasenta.

·         Nifas yang lalu, kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea, infeksi dan laktasi berjalan dengan normal atau disertai konflikasi.

·         Pada kasus infertilitas, kemungkinan akan terjadi retensio plasenta karena lapisan endometriumnya tipis.

·         Pada  kasus banyak anak (grandemultipara ) merupakan salah satu predisposisi retensio plasenta

·         Kemungkinan ada.riwayat retensio pada persalinan sebelumnya





f.        riwayat kehamilan sekarang
-          HPHT : untuk mengetahui usia kehamilan dan tafsiran persalinan
-          Keluhan-keluhan umum yang terjadi pada TM I, TM II, TM III: untuk mengetahui kemungkinan adanya tanda-tanda bahaya pada ibu hamil. Pada kasus plasenta previa kemungkinan dapat mengakibatkan retensio plasenta, karena dibagian istmus uterus, pembuluh darah sedikit sehingga perlu masuk jauh kedalam.
-          Obat / suplemen termasuk jamu-jamuan yang dikonsumsi : untuk mengetahui apakah si ibu mempunyai kebiasaan makan, minum obat-obatan / jamu, merokok, gaya hidup yang tidak sehat, selama waktu hamil atau tidak.
-          Imunisasi : kemungkinan apakah ada ibu mendapatkan imunisasi TT selama kehamilan.
g.      riwayat kesehatan
riwayat kesehatan yang lalu: untuk mengetahui apakah pasien pernah mengalami masalah seperti jantung, ginjal, asma, TBC, hipertensi, DM, epilepsi, PMS dan mengalami operasi pada uterus atau tidak.
Riwayat kesehatan sekarang :

h.      riwayat kesehatan keluarga
mengetahui apakah keluarga ada yang mengalami penyakit seperti, jantung, ginjal, asma, TBC, hipertensi, DM, epilepsi dan PMS atau tidak.

i.        Riwayat kontrasepsi
Kemungkinan klien pernah menggunakan alat kontrasepsi atau tidak.

j.        Riwayat seksualitas
Apakah klien mengalami masalah selama berhubungan atau tidak.

k.       Riwayat sosial, ekonomi dan budaya
Mengetahui bagaimana hubungan pasien dengan lingkungan sekitarnya apakah baik atau tidak dan keadaan ekonomi pasien mampu atau kurang mampu serta budaya yang mempengaruhi lingkungan klien. dengan adanya pantangan untuk memakan makanan tertentu bagi ibu hamil juga akan mempengaruhi kesehatan ibu.



l.        Riwayat spritual
Kemungkinan klien melakukan ibadah agama dan kepercayaannya dengan baik.

m.    Riwayat psikologis
Mengetahui kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan klien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini
.
n.      Kebutuhan dasar
Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat dan personal hygiene dan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan saat hamil dan bersalin.

2. Data Objektif
data objektif merupakan data yang dikumpulkan dari pemeriksaan umum dan khusus.
a)      Pemeriksaan umum

ü  Keadaan umum :  untuk mengetahui keadaan ibu secara umum. Pada rentensio plasenta keadaan umum ibu kurang baik.
Keadaan emosional : untuk mengetahui apakah kaeadaan emosional ibu stabil atau tidak.
ü  Ukuran LILA : untuk mengetahui status gizi ibu.
ü  Tanda-tanda vital
a. TD :
b. Suhu :
c. Nadi :
d. Pernafasan :
ü  Berat Badan  ( untuk mengetahui status gizi ibu )
Saat ini :
Sebelum hamil :
Kenaikan BB selama hamil :
ü  Tinggi badan :

b)      Pemeriksaan khusus
ü  Secara inspeksi, yaitu pemeriksaan pandang yang dimulai dari kepala sampai kaki.
Yang dinilai adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka, conjungtiva , sklera, hidung dan telinga, mulut apakah caries , karang gigi, leher apakah ada pembesaran kelenjer gondok, payudara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan puting susu menonjol atau tidak, colostrum ada atau tidak, perut membesar sesuai denagan usia kehamilan, apakah  ada bekas luka operasi atau tidak, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema, dan pengeluran dari vagina, Anus apakah ada haemoroid, ektermitas atas dan bawah apakah ada kelainan.
Yang menjadi fokus pemeriksaan yaitu  mata apakah conjungtiva pucat atau tidak dan biasanya pada retensio plasenta mata klien pucat dan kemungkinan klien juga ada bekas operasi pada uterusnya.
Pendarahan kurang lebih 400 cc.



ü  Secara Palpasi yaitu,pemeriksaan yang difokuskan pada abdomendengan menngunakan cara leopold.
Yang menjadi fokus pemeriksaan adalah pada daerah perut didapatkan uterus tidak teraba bulat dan keras kontraksi kurang kuat, TFU 3 jari diatas pusat.
Plasenta belum lahir lebih dari 30 menit. Kontraksi kurang baik
ü  Secara Auskultasi
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendengarkan.
ü  Secara perkusi
Kemungkinan refleks petella kiri dan kanan positif.


c)      Pemeriksaan penunjang
ü  Pemeriksaan labor dilakukan untuk mengetahui derajat anemia yang dialami klien yaitu dengan melakukan pemeriksaan HB  berhubungan dengan seberapa banyak pendarahan yang telah di alami klien.

d)      Pemeriksaan dalam
Pada pemeriksaan dalam dengan kasus retensio plasenta ( plasenta akreta )sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam.

e)      Pemeriksaan luar
Tanda penting untuk diagnosis pada retensio plasenta (plasenta akreta ) pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus atau korpus bila tali pusat ditarik.


II.                  INTERPRESTASI DATA DASAR, DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN
Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.beberapa maslah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosis tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.

1. Diagnosa
Ibu P..A..H.., partus kala III dengan retensio plasenta

Dasar :
-          Ibu mengatakan perutnya tidak terasa mules plesenta belum lahir
-          Ibu mengatakan merasa lega dan senang dengan kelahiran bayinya
-          Keadaan umum kurang baik
-          Mata pucat
-          Uterus tidak teraba bulat dan keras, kontraksi kurang kuat
-          TFU 3 jari diatas pusat
-          Plasenta belum keluar dari 30 menit
-          Pendarahan kurang lebih 400 cc


2. Masalah
Pendarahan dan kekurangan cairan

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang ada sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila kemungkinan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa / masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Kemungkinan diagnosa atau masalah potehsial yang timbul:
v  ketidakseimbangan elektrolit dan syok.
Dasar: kebutuhan cairan yang berkurang akibat pendarahan lebih
kurang 400 cc


IV.IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN PENANGANAN SEGERA DAM KOLABORASI
Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya Tindakan segera atau tidak oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasi atau ditangani bersama dengan anggota TIM kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Tindakan segeranya adalah:

v  Kolaborasi dengan dokter Sp.OG  dan tenaga kesehatan lainnya bila terjadi komplikasi lebih lanjut, pasang infus cairan dextrose 5%, tranfusi darah dan manual plasenta.






    V. PERENCANAAN
            Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dari langkah sebelumnya. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah.

intevensi

1.      Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
2.       Lakukan infom consent dengan keluarga untuk melakukan tindakan yang akan  dilakukan.
3.       Pasangkan infus cairan ringer dekstrose 5% pada klien.
4.       lakukan kolaborasi dengan dokter Sp. OG untuk memberikan penanganan  segera.
5.      Persiapkan donor darah untuk tranfusi darah untuk persiapan bila kekurangan darah pada klien.
6.      Lakukan test pelepasan plasenta dengan cara kustner memastikan apakah plasenta sudah lepas
7.       Lakukan manual plasenta jika plasenta belum lepas
8.      Lakukan observasi kontraksi uterus, periksa plasenta yang sudah dikeluarkan, selaput dan kotiledonnya, kontrol luka yang terjadi pada vagina dan perinium tidak ada robekan.
9.      Lakukan masase fundus selama 15 detik.
10.  Bersihkan klien dan lakukan vulva hygiene setelah plasenta dilahirkan
11.  Berikan minum pada klien dan anjurkan klien untuk istirahat
12.  Dokumentasikan semua hasil pemeriksaan dan asuhan yang telah diberikan.





BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan            
              Dalam penanganan retensio plasenta seorang bidan harus memiliki keterampilan dan harus bsa mendeteksi secara dini serta mengetahui tanda-tanda komplikasi terjadinya retensio plasenta. Retensio plasenta jika tidak ditangani dengan sebaik-baiknya akan menyebabkan kematian pada ibu. Retensio plasenta adalah tidak lahirnya plasenta lebih dari 30 menit dan hal ni diakibatkan tertinggalnya sisa plasenta di tempat penanaman plasenta. Bisan bisa mencegah dengan melakukan upaya promisi dengan penerimaan keluarga berencana sehingga memperkecil retensio plasenta, meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan yang terlatih, pada pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan untuk melakukan masase dengan tujuan mempercepat proses persalinan plasenta. Masase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim  dan mengganggu pelepasan plasenta.
3.2  Saran
        Makalah ini ungkin msih luput dari kesalahan dan banyak kekurangan yang dituliskan oleh penulis maka dari itu penulis mohon kiritik dan sarannya.









DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, I.G.B, dkk.2007.pengantar kuliah obstetri.Jakarta: Penerbit buku kedokteran
Yulianti Lia,amd.keb,MKM,dkk.2011. Asuhan kebidanan IV (patologi kebidanan).Jakarta:TIM





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar